|
Investasi Rp15 juta, profit Rp 2 juta – 3 juta per bulan!
Maknyussss.....

Sekilas Tentang Bola Ubi Madoo
Ubi jalar adalah bahan makanan dari jenis umbi-umbian, selain singkong, talas
dan kentang yang bisa langsung diolah menjadi beragam makanan ringan yang lezat
dan enak. Di Indonesia, ubi jalar sudah sangat dikenal oleh sebagian masyarakat.
Namun sayangnya, ubi jalar bukanlah jenis makanan favorit dan biasanya lebih
dikenal sebagai makanan rakyat pedesaan. Padahal, ubi jalar mengandung beragam
gizi yang sangat baik, bahkan jika kreatif dalam pengolahannya bisa menjadi
lahan bisnis yang menguntungkan.
Di Bandung, ada makanan berbahan ubi jalar yang sedang digandrungi banyak orang.
Makanan itu adalah Bola Ubi Madoo. Bola karena memang bentuknya unik seperti
bola tennis tapi kopong. Sedangkan Madoo karena bahan dasarnya dari ubi madu (ubi
cilembu) yang terkenal sangat manis.
Bola Ubi Madoo memang makanan yang masih belum familier. Namun di Bandung,
makanan ini sangat digemari. Selain unik cara penggorengannya maupun bentuknya,
rasa Bola Ubi Madoo juga lezat dan garing. Sehingga setiap orang mencoba pasti
bakal ketagihan.
Nah, melihat fenomena Bola Ubi Madoo di Bandung, Irwan Tanusolihin, pria yang
sudah berpengalaman di bisnis makanan, dan memiliki beberapa gerai roti bakar
merek 88 di Tangerang, tertarik mengembangkan bisnis Bola Ubi Madoo di daerahnya,
Tangerang dan beberapa kota lain. “Mulanya saya tertarik untuk terjun ke bisnis
ini karena tertarik dengan rasanya yang enak, tidak mengenyangkan dan proses
penggorengannya yang unik dan menarik,” ungkap Irwan. Disamping yang juga tidak
kalah penting adalah potensi bisnisnya yang besar dan bahan bakunya mudah
didapat.
Dalam waktu dekat, akan buka 2 booth lagi yakni di Salsa Food City, Gading
Serpong dan Alam Sutera.
Proses Penggorengan Bola Ubi Madoo Yang Unik
Proses penggorengannya, cerita Irwan, adonan Ubi Bola Madoo dipulung – pulung
sebesar kelereng besar, lalu di goreng di dalam minyak. Setelah agak membesar,
diangkat lalu digoreng lagi sambil ditekan – tekan dengan menggunakan sendok
khusus. “Nah, pada saat bola ubi ditekan – tekan dengan sendok khusus, Ubi Bola
Madoo akan melembung, hal ini diulang – ulang sampai bola ubi madoo sebesar bola
tenis dan garing,” paparnya.Tak perlu beripikir lama. Setelah mantap dan yakin
akan potensi Bola Ubi Madoo, pada Januari 2010 Irwan pun mantap mendirikan booth
Bola Ubi Madoo di Tangerang. Booth pertama ia dirikan di depan gerai Roti Bakar
88 miliknya. Lantaran respon masyarakat Tangerang sangat bagus, booth-booth
berikutnya menyusul bediri. Saat ini total di Tangerang sudah ada 4 booth.
Selain di depan Roti Bakar 88, juga berdiri di daerah Pasar Lama, Pasar modern
BSD dan di Foodcourt Villa Permata, Lippo Karawaci.
Kemitraan Bola Ubi Madoo
Potensi yang bagus tetapi belum dikembangkan secara maksimal, adalah contoh dari
produk Bola Ubi Madoo. Pasalnya makanan jenis ini hanya terdapat di Bandung.
Daerah-daerah lain sama sekali belum ada bahkan mengenalnya. Oleh sebab itu,
Irwan melihat ada peluang bisnis besar jika mampu memperkenalkan Bola Ubi Madoo
ke berbagai daerah melalui pola kemitraan. “Karena peluang bisnisnya sangat
besar, mengingat saat ini bola ubi madoo belum dikembangkan secara maksimal,
hanya ada di Bandung,” kata Irwan menerangkan alasan memitrakan Bola Ubi Madoo.
Kemitraan Bola Ubi Madoo ditawarkan Irwan dengan harga Rp 15 juta. Harga
kemitraan tersebut sudah termasuk booth, perlengkapan, bahan baku awal, seragam,
banner dan training karyawan. “Konsep kerjasama yang kami tawarkan berbentuk
kemitraan dimana kami akan menyediakan bahan baku serta pelatihan kepada mitra.
Kami tidak memungut royalti kepada mitra,” terangnya.
Irwan menegaskan, bisnisnya ini sudah terbukti menguntungkan. Per booth, kata
dia, rata-rata mampu menjual 200 – 300 buah per hari, kalau weekend, omsetnya
biasanya bisa dua kali lipat. Jika harga jual per buahnya Rp 1,250 - Rp 1,500,
tergantung lokasi Omset per bulan (200pcs@ Rp 1.250 x 30 hari), minimal Rp 7,5
juta. Setelah dikurangi total pengeluaran untuk gaji karyawan, sewa, elpiji dan
bahan baku yang perbulannya sekitar Rp5,4 jutaan maka laba bersih yang didapat
per booth adalah Rp 2 juta – Rp 3 juta dalam perhitungan yang konservatif.
Apabila harga jualnya Rp 1,500, keuntungan per bulannya bisa mencapai 4 juta
sehingga balik modal dalam waktu kurang dari 4 bulan,” katanya.
Melihat fakta bisnis yang menguntungkan itu, Irwan optimis Bola Ubi Madoo akan
cepat berkembang biak ke berbagai tempat. Sampai akhir 2010 ini, ditargetkan
bisa buka sampai 30 booth. Tetapi untuk tahap awal, fokus pengembangan Irwan
masih di Jabodetabek . “Untuk tahap awal kami akan fokus untuk mengembangkan
kemitraan di daerah Jabodetabek dan sekitarnya,” pungkasnya.
Info Franchise Bola Ubi Madoo
Yang anda dapatkan:
1. Booth dengan desain menarik
2. 1 set perlengkapan lengkap
3. Bahan baku awal
4. Pelatihan karyawan
5. Seragam
6. Banner
7. Spanduk
Proses kemitraan:
1. Isi formulir
2. Penjelasan mengenai kemitraan
3. Survey lokasi
4. Penandatanganan kontrak dan pembayaran investasi (50%)
5. Pembuatan booth
6. Training karyawan dan pelunasan investasi
7. Pengiriman peralatan dan bahan baku
8. Opening
Analisa Keuntungan
Investasi
Omset per bulan*
(200pcs@ Rp 1.250 x 30 hari)
Pemakaian bahan baku
Minyak goreng dan gas elpiji
Gaji karyawan
Sewa tempat
Total pengeluaran
Laba bersih |
: Rp 15.000.000
: Rp 7.500.000
: Rp 3.000.000
: Rp 300.000
: Rp 1.000.000
: Rp 500.000
: Rp 4.800.000
: Rp 2.700.000 |
BEP : + 5 bulan
Catatan:
* Harga jual dapat disesuaikan dengan lokasi. Harga jual terendah adalah Rp
1.250 dan tertinggi Rp 2.000.
Keuntungan menjadi mitra:
1. Modal tidak terlalu besar
2. Tidak membutuhkan area yang luas sehingga biaya sewa dapat diminimalisir
3. Cukup hanya dengan satu karyawan sehingga biaya operasional dapat
dimininlisir
4. Tidak dipungut royalty fee
5. Tingkat pengembalian yang cepat
6. Tidak memerlukan pengalaman atau keahlian awal
7. Mendapatkan support pemasaran dari principal
8. Jaminan kualitas produk karena bahan baku disupply dan dikontrol ketat oleh
principal
Brosur Bola Ubi Madoo
(klik gambar untuk memperbesar)

|